Bogor — Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) hasil kunjungan lapangan dalam rangka studi aspek keamanan hulu minyak dan gas bumi (migas) Wilayah I, khususnya di kawasan strategis Natuna, bertempat di Kampus Unhan RI, Bogor, Senin (12/1).
FGD ini merupakan bagian integral dari kajian bertajuk “Pengamanan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi di Wilayah Natuna dalam Rangka Mendukung Ketahanan Energi Nasional”. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk mendalami, memvalidasi, serta memperkaya temuan lapangan para peneliti Unhan RI terkait kondisi operasional hulu migas, pola pengamanan yang berjalan, serta potensi ancaman dan kerawanan di wilayah kerja.
Rektor Unhan RI, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa wilayah Natuna memiliki nilai strategis yang sangat tinggi, tidak hanya dari sisi potensi migas, tetapi juga dari aspek pertahanan, keamanan, dan kedaulatan negara. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengamanan kegiatan hulu migas di kawasan tersebut memerlukan perhatian serius serta pendekatan yang terpadu dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, George Nicholas Marsahala Simanjuntak, menyampaikan bahwa pelaksanaan FGD ini merupakan bentuk kolaborasi antara Unhan RI dan SKK Migas yang memiliki makna serta manfaat strategis. Menurutnya, sinergi antara institusi akademik dan pemangku kepentingan sektor energi menjadi kunci dalam merumuskan penguatan pengamanan hulu migas yang komprehensif. Ia juga menegaskan bahwa Natuna merupakan simbol kedaulatan negara yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan, sehingga memerlukan perhatian bersama dari seluruh pemangku kepentingan.
FGD ini turut menghadirkan sejumlah penanggap dari kalangan akademisi dan praktisi strategis, di antaranya Dr. Sampe Purba, Prof. Ir. M. Sidik Boedoyo, M.Eng., serta Laksamana Muda TNI (Purn.) Julius Widjojono, CHRMP. Para penanggap memberikan pandangan komprehensif dari aspek kebijakan energi, pengamanan objek vital nasional, hingga perspektif pertahanan maritim, guna memperkaya diskusi dan memperdalam analisis terhadap tantangan pengamanan hulu migas di wilayah Natuna.
Adapun tim peneliti Unhan RI yang terlibat dalam kajian strategis ini terdiri atas Laksamana Muda TNI (Purn.) Dr. Suyono Thamrin, Mayor Jenderal TNI Dr. Mitro Prihantoro, Brigadir Jenderal TNI Dr. Guntur, Marsekal Pertama TNI Dr. Samsul Bahari, Kolonel Laut (Purn.) Prof. Dr. Aris Sarjito, Dr. Murtiana, Dr. Ir. Imam Supriyadi, Dr. Mulihadi Tumanggor, serta Susilo, M.Si. Tim ini melakukan kajian mendalam berbasis kunjungan lapangan dan analisis multidisipliner guna menghasilkan rekomendasi kebijakan yang komprehensif dan aplikatif.
FGD ini mencerminkan sinergi yang kuat antara dunia akademik dan praktisi industri melalui kerja sama antara Unhan RI, SKK Migas, serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis data lapangan, aplikatif, dan selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus mendukung pengamanan objek vital nasional.
Universitas Pertahanan RI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penelitian strategis di bidang pertahanan dan keamanan energi nasional. Pendekatan pengamanan kegiatan hulu migas, khususnya di wilayah Natuna, tidak hanya menitikberatkan pada aspek keamanan semata, tetapi juga mencakup pendekatan sosial kepada masyarakat, penguatan aspek hukum dan diplomasi maritim—terutama terkait Zona Ekonomi Eksklusif—serta penguatan tata kelola kebijakan yang inklusif.
Melalui pelaksanaan FGD ini, Unhan RI berharap dapat dirumuskan rekomendasi yang konstruktif dan aplikatif guna memperkuat pengamanan kegiatan hulu migas di wilayah Natuna, sekaligus berkontribusi nyata dalam mendukung ketahanan energi nasional dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(Humas Unhan RI)



