Bogor — Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., menghadiri kegiatan Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) 2-Day Workshop on SMR Deployment Considerations for Indonesia yang diselenggarakan pada 3–4 Maret 2026 bertempat di Park Hyatt Jakarta. (Selasa, 3/3).
Workshop internasional ini merupakan kolaborasi antara Dewan Energi Nasional, Institut Teknologi PLN, FIRST Program, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI), Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), serta Japan International Cooperation Center (JICC). Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan strategis dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang guna membahas kesiapan infrastruktur, penguatan kerangka regulasi, pengembangan sumber daya manusia, serta tata kelola pemanfaatan teknologi Small Modular Reactor (SMR) secara aman dan bertanggung jawab.
Pada sesi pembukaan, sambutan disampaikan oleh Mr. Peter M. Haymond selaku Charge d’Affaires Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dan Mr. Mitsuru Myochin selaku Charge d’Affaires Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia. Sambutan kunci kemudian disampaikan oleh Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam menjadikan energi nuklir sebagai bagian dari strategi ketahanan energi dan dekarbonisasi nasional. Pengembangan SMR diposisikan sebagai solusi baseload rendah karbon yang mendukung target Net Zero Emission serta memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Paparan strategis berikutnya disampaikan oleh Satya Widya Yudha, Anggota Dewan Energi Nasional, (DEN) yang menguraikan arah kebijakan pengembangan nuklir dalam kerangka Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Disampaikan bahwa Indonesia menargetkan pengoperasian awal PLTN berbasis SMR pada awal dekade 2030-an dengan kapasitas bertahap, serta pengembangan jangka panjang hingga 2060 sebagai bagian integral dari bauran energi nasional. Penekanan diberikan pada pentingnya dukungan politik tingkat tinggi, sinkronisasi lintas kementerian, serta penguatan sistem perizinan dan pengawasan sesuai standar internasional.
Selanjutnya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memaparkan peran pembangkit listrik tenaga nuklir dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Disampaikan bahwa transisi energi merupakan kebutuhan strategis untuk menjamin keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan sistem kelistrikan nasional. Komitmen terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca dipandang sebagai tanggung jawab moral sekaligus langkah strategis menjaga daya saing ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pengantar agenda dan ekspektasi workshop disampaikan oleh perwakilan U.S. Department of State, Mr. J.J. Henkin, serta Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Iwa Garniwa, yang menegaskan pentingnya sinergi internasional dalam memastikan kesiapan regulasi, teknologi, dan kapasitas institusional sebelum implementasi SMR di Indonesia.
Kehadiran Rektor Unhan RI dalam forum ini menegaskan komitmen Unhan RI sebagai perguruan tinggi pertahanan berstandar internasional yang berperan aktif dalam isu-isu strategis nasional, khususnya pada dimensi pertahanan energi dan transisi menuju sistem energi rendah karbon. Partisipasi tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Unhan RI dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di bidang sains, teknologi, kebijakan energi, dan tata kelola strategis, guna mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berdaulat energi.
(Humas Unhan RI)
Peliput: Agus
Reporter: Agus
Editor: Surya S.










